Memori perjungan Founding Father


 

Oleh: Syahril Yusup

Catatan ini hanya sebagai refleksi generasi muda di abad ini. Bahwa kehadiran dasar Negara (Pancasila), adalah bagian dari proses panjang yang tidak terpisahkan dari masa lalu (Historial). Karena itulah, sebagai bangsa yang besar, dengan jumlah penduduk 279.554.147 jiwa, sudah menjadi tanggungjawab “kita” untuk terus melestarikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kilas balik sejarah masa lalu. Setelah kolonialisme menguasai rempah- rempah Nusantara pada Abad ke XVII, maka saat itupula kaum-kaum pribumi tertindas dengan mereka yang rakus akan kekuasaan. Kehadiran Belanda semakin kokoh dan kuat setelah menguasai seluruh pelosok Nusantara apalagi, didukung dengan kekuatan militernya.

Tetapi pada saat itu, Belanda mendapat perlawanan dari rakyat di berbagai Wilayah Nusantara antara lain: seperti, Patimura yang berada di Maluku (1817), Baharudin di Palembang( 1819), Imam Bonjol di Minangkabau (1821-1837), Pangeran di Ponegoro di Jawa Tengah(1825-830) Jlentik, Polim, Teuku Tjik di Tiro , Teuku Umar (1860), anak Agung Made ( 1894-1895) dan masih banyak lagi perlawanan yang dilakukan oleh kaum pribumi.

Tujuannya hanya satu, bagaimana Nusantara bisa terlepas dari penindasan maka semangat dan dorongan itulah yang membuat peribumi terus melawan Bangsa Belanda. Akan tetapi, harapan itu akhirnya juga kandas ditengah jalan, akibat dari kurangnya persatuan dan kesatuan mereka untuk melawan penjajah. Harus diakui, bangsa Belanda lebih kuat dari penduduk pribumi.  

Maka tidak bisa dipungkiri kekuatan kolonialisme Pada Tahun (1830-1870) semakin kokoh di kawasan Nusantara. Apalagi, Belanda pada saat itu menerapkan sistim monopoli yang memaksa beban kewajiban terhadap rakyat yang tidak berdosa. Pendiritan rakyat pribumi semakin memburuk, ketika Belanda sudah tidak peduli lagi dengan ratap penderitaan tersebut. Bahkan dengan Rakusnya, Belanda terus memperbanyak kekayaan bangsanya dari hasil kaum-kaum pribumi yang telah di tindas.

Dari peristiwa itulah Nusantara mulai menunjukan Nasionalismenya di abad ke-XX yang ditandai dengan kehadiran organisasi ternama seperti, Budi Utomo yang di pelopori oleh dr. Wahidin sudirohusodo. Kemudian munculah Organisasi- Organisasi pergerakan Nasional lainnya; Serekat Dagang Islam, (SDI) (1909) Kemudian beralih nama menjadi Sarekat Islam (SI ) Tahun ( 1911) di bawah H.O.S Cokroa Minoto. Berikutnya munculah Indische Partij (1913) yang di pimpin tiga serangkai yaitu: Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo, Suwardi Surayaninggrat (Ki. Hajar Dewantoro). Kemudian munculah Partai Nasional Indonesia PNI ( 1927) yang di pelopori oleh Soekarno, Ciptomangunkusumo, Sartno dan tokoh lainnya.

Dengan kelahiran beberapa organisasi tersebut, disusul pula dengan beberapa tokoh pemuda lainnya seperti; Muh. Yamin, Wongsonegoro, Kuncoro Purbopranoto serta tokoh- tokoh muda lainnya. Perjuangan itu mulai nampak dipermukaan setelah ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang isinya; satu Bahasa, satu Bangsa, satu Tanah Air. Sekaligus yang dirangkaikan dengan lagu Indonesia Raya sebagai penggerak kebangkitan kesadaran berbangsa dan bernegara. Yang substansinya Nusantara harus memiliki nilai kehormtan dan martabat dengan kekuatannya sendiri.

Setalah jatuhnya Belanda Tanggal 1 Maret 1942, ternyata diam-diam Jepang  masuk ke Indonesia dengan propaganda Jepang sebagai cahaya asia, Jepang pemimpin Asia, dan Jepang saudara tua Indonesia. Pernyataan itu sebagai strategi dari Jepang untuk mendapat dukungan dari bangsa Indonesia, karena pada saat itu Jepang sudah terdesak oleh ancaman dari lawannya seperi; Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Prancis, dan Belanda.

Dengan posisi Jepang mulai terdesak, maka mereka menawarkan kemerdekaan kepada Indonesia dan itu merupakan sebuah taktik untuk mendapat dukungan dari pribumi. Akan tetapi perjanjian itu dapat terwujud pada Tahun 1945 bersamaan dengan hari ulang Tahun kaisar Jepang. Dimana saat itu pemerintah Jepang mengumumkan Pembentukan Badan Penyelidik Usaha- Usaha Persiapan Kemerdekaan. Dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi cosakai. Organisasi ini diketuai oleh dr. Radjiman wedyonininggrat sebagai ketua, wakil ketua icibangase dengan jumlah anggota 60 orang.      

Untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia maka sidang BPUPK pertama kali di lakukan pada tanggal 29 Mei 1945. Dalam sidang tersebut membahas rumusan dasar negara Indonesia merdeka. Adapun sidang BPUPK yang berlangsung beberapa anggota menyampaikan pandangannya antara lain: Mr. Muhammad Yamin, Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno.

Ketiga tokoh tersebut yang mendapat kesempatan pertama tanggal 29 Mei 1945 untuk menyampaikan gagasannya adalah Mr. Muhammad Yamin dengan gagasannya sebagai berikut:

Ø                Ø Peri kebangsaan,

Ø                ØPerikemanusiaan

Ø               ØPeriketuhanan

Ø                ØPerikerakyataan

Ø                ØKesejatraan rakyat.

Kemudian Kesempatan kedua adalah Prof.Dr.Soepomo tanggal 31 Mei 1945 cara padangnya berbeda dari yang lainnya, pandangannya tentang negara yang pertama

Ø Negara tidak bisa berpihak pada golongan yang besar. Tetapi Negara harus berpihak pada semua golongan.

Ø Warga Negara harus takluk pada tuhannya.

Ø Kepala Negara harus menyatu dengan rakyatnya.

Ø Ekonomi kekeluargaan, tolong menolong, dan menerapkan sistim koprasi sebagai salah satu dasar ekonomi Negara Indonesia yang makmur, berdaulat dan adil.

Ø Menjalin hubungan antara Negara bangsa supaya menyatu dalam keluarga asia timur raya.

Kesempatan ketiga adalah Ir. Soekarno (1 Juni 1945) yang mempresentasikan dasar Negara secara lisan tanpa teks yang terdiri dari 5 prinsip yaitu;

Ø Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)

Ø Internasionalisme (Perikemanusiaan)

Ø Mufakat (Demokrasi )

Ø Kesejatraan Sosial

Ø Ketuhanan Yang Maha Esa ( Ketuhanan Yang Berkebudayaan).

Dari lima prinsip yang disampaikan oleh Soekarno diusulkan agar diberi nama “Pancasila” melalui saran dari ahli bahasa yang juga sebagai teman dekatnya. Berikutnya menurut Soekarno kelima sila tersebut dapat diperas menjadi “Tri Sila” yang meliputi;

Sosio-Nasionalisme yang merupakan sintesis dari kebangsaan 1.(Nasionalisme) dengan Peri kemanusiaan (Internasionalisme) , 2. Sosio- Demokrasi yang merupakan sintesis dari ‘ Mufakat (Demokrasi ) dengan kesejatraan sosial, serta (3) Ketuhanan. Selain itu Soekarno menyampaikan bahwa Tri Sila dapat diperas menjadi “Eka Sila”yang intinya adalah gotong royong.

Setelah itu Soekarno mengusulkan Pancasila sebagai dasar filsafat Negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia atau yang dikenal dengan ‘Philosofhische Grondslag’. Yang juga sebagai pandangan dunia yang setingkat dengan aliran- aliran besar dunia atau sebagai ‘ Weltanschauung’ dan diatas itulah kita dirikan Negara Indonesia.  

Menurut Kahin, pandangan Soekarno tentang rumusan negara begitu penting yang disampaiakan pada tanggal 1 Juni 1945. Sebab sila- sila yang diusulkan itu merupakan suatu filsafat Sosial-Politik yang matang yang sebenarnya juga diyakini oleh pemimpini-pemimpin Nasionalis yang berpengaruh di Indonesia. Menurut Kahin tidak ada rumusan prinsip dasar Negara yang dapat dijadikan contoh sebagai sintesis dari Demokrasi Barat, Islam Moderen, marxis, dan gagasan-gagasan Demokrasi dan komunalistik pedesaan yang asli, yang merupakan dasar umum pemikiran sosial dari sebagaian besar elit politik Indonesia setelah penjajahan. (Kahin, 1970:123) (Soewarno, 1993;96).

Ringkasan catatan diatas tidak bermaksud menggurui, hanya saja sebagai alaram untuk kita semua bahwa 1 Juni 2024 adalah momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia Susah paya para pendiri bangsa (Founding Father) yang telah mempertaruhkan nyawa, fikiran dan gagasan hanya demi satu nama, I n d o n e s i a.

Hal yang sangat mendasar dari catatan diatas adalah bagaimana peran pemuda dalam dewasa kini agar terus,  mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, agar bangsa ini tidak melupakan sejarah dengan begitu cepat. Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang yang menghargai sejarah.

 

Penulis

Syahril yusup (Pegiat Literasi)

Sumber bacaan

Bunga Rampai, (2013) Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan. Penerbit, ideas Publising, Gorontalo.

Prof,dr. H. Kaelan, M.Si. (2014) Pendidikan Pancasila. Penerbit, Perum. Nogotirto III JI. Bromo C97 Trihanggo, Sleman, Yokyakarta.

Filsafat Pancasila Bung Karno, Prof. Dr. Suyahmo, M.Si (2014) Penerbit, Magnum Pustaka Utama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About

Responsive Advertisement