ISLAMISASI DI GORONTALO, HINGGA MASUKNYA JAMAAH TABLIGH DI TOLINGGULA.




Oleh Syahril Yusup 

Gorontalo atau sebutan nama lain Hulantalo, merupakan kawasan yang punya history tersendiri dalam persfektif Islamisasi. Islam di Gorontalo menurut Hasanudin dan Basri amin dalam bukunya yang berjudul “Gorontalo dalam dinamika sejarah masa kolonial 2012”. Sekitar tahun 1520 kerajaan gorontalo dibawah kekuasaan Olongia To Tilayo Amai, sedangkan Olongia To Huliyalia dijabat Taliyabu. Saat itu, terjadi perubahan social di kawasan tersebut setelah masuknya agama islam. Dan orang pertama peletak dasar islam di gorontalo adalah raja amai, Semua berawal dari perkawinan antara Raja Amai dan putri Owutango, Owutango merupakan  putri dari raja palasa Ongomnjolo (Kumujolo) di siyendeng, tomini yang mempunyai pertalian darah dengan raja-raja ternate.

Awalnya islam di mulai dari kunjungan raja amai untuk memperkuat hubungan kerja sama dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Teluk Tomini. Tiba di kerajaan palasa, ternyata raja amai terpikat dan kemudian langsung melamar putri Owutango. Lamaran itupun langsung mendapat respon positif dari pihak raja palasa dengan syarat utama raja amai harus memeluk islam begitupula adat istiadat yang berlaku di masyarakat gorontalo harus bersumber dari alquran.

Karena itulah, raja amai melakukan pembaruan dalam kerajaan  dengan mengembangkan prinsip adat dan kebiasaan masyarakat yang disesuaikan dengan ajaran islam.

Setelah melangsungkan perkawinan, raja amai kembali ke gorontalo bersama istrinya putri Owutango dan didampingi 8 raja kecil dibawah vassal palasa yaitu Tamalate, Lemboo,Siyendeng, Hulangato, Siduan,Sipayo, Songinti Dan Bunuyo. Kehadrian 8 raja tersebut yang telah diutus dari pihak raja palasa tujuannya untuk membantu raja amai dalam membimbing masyarakat serta merancang adat istiadat yang berpedoman pada agama islam. Kedatangan raja amai dan rombongan disambut baik oleh pembesar kerajaan gorontalo, bahkan raja-raja kecil dari utusan raja palasa yang ke gorontalo diberi gelar  Olongia walu lonto otolopa.

Di gorontalo, 8 raja tersebut dibagi tugas sesuai dengan keahliannya masing-masing. Seperti, raja tamalate, limbo, siyendeng, dan hulangato ditugaskan merancang adat- istiadat yang akan diberlakukan dimasyarakat gorontalo. Ada pula raja tamalate dan siyendeng menuntun masyarakat gorontalo bagaimana cara membuat peralatan rumah tangga seperti tolu, tutup saji dan pembuatan garam dapur. Demikian pula bagi raja siduan, sipayo, songinti dan bonuyo bertugas mengajarkan hal- hal yang berhubungan dengan mantera-mantera dan dukun dalam pengobatan. Selain itu, untuk memenuhi tugas utama dalam pengajaran islam maka 8 raja kecil diberi tugas sebagai muballigh dalam pengajaran islam di masyarakat.

Kehadiran 8 raja di gorontalo ternyata mendapat perlakukan khusus dari raja amai sebut saja mereka diberi lokasi pemukiman tersendiri yang berada di daerah hunto(Kelurahan biawu, kecamatan kota selatan sekarang). Didaerah tersebut mereka mendirikan sebuah tempat ibadah yang disebut Tihi Lo Hunto (masjid sulatan amai sekarang). Tempat inilah menjadi pusat kegiatan pendidikan dan kebudayaan agama islam bagi masayarakat saat itu. Demikian pula dalam aktifitasnya mulai memperkenalkan dan mengembangakn islam prinsip adat dan kebiasaan yang berlaku pada kerajaan dengan cara ajaran islam.

Tahun 1530 agama islam secara resmi menjadi agama yang berkembang dalam sistim kerajaan, sekaligus mengatur adat istiadat dengan memasukan pengaruh islam didalamnya. Selain itu, pihak kerajaan mulai menetapkan tentang pentingnya adat istiadat disesuaiakan dengan syariat islam dalam rumusannya dikenal dengan prinsip “ saraa topa-topango to adati” artinya” syarah bertumpuh pada adat”. Adapun rancangannya yang dibuat oleh raja amai dan 8 raja kecil telah menghasilkan suatu rumusan adat sebanyak 185 adat yang diberlakukan. Prinsip-prinsip adat tersebut telah dijalankan dalam pemerintahan kerajaan serta dihubungkan dengan masyarakat yang berpola pada kehidupan islami.

Singkat cerita, sekitar tahun 1590 raja amai digantikan oleh anaknya bernama Motolodulakiki sebagai Olongio To Tilayo. Tetapi saat itu, masih ada beberapa kelompok masyarakat yang tergolong dalam Animisme yang dapat diartikan sebagai kelompok penyembah dewa gunung Tilongkabila—Toguwata, Malenggabila, dan Longgibila. Secara perlahan kelompok ini mulai berpindah ke agama islam, penyebabnya karena kebijakan dari raja yang mengharuskan penduduknya wajib memeluk Islam. Untuk lebih memahami ajaran islam. Motolodulakiki mengutus pembesar kerajaan guna mempelajari ajaran islam di ternate, sehingga ajaran islam tersebut lebih ditekankan kepada ajaran tauhid dan ma’rifat.

Setelah Raja motolodulakiki berhasil mengembangkan proses islamisasi dan memperluas strukturisasi islam di tengah masyarakat gorontalo dan sekitarnya. Hal ini telah terbukti setelah diberlakukannya suatu pengembangan prinsip hukum adat yang berbunyi :”adati hulahulaa to saraa; saraa hulahulaa to adati”( adat bersendi syara, syara bersendi adat). Yang di artikan bahwa hukum adat dan hukum islam memiliki kedudukan yang sama.

Pengaruh islam semakin berkembang di gorontalo setelah berakhirnya periode raja amai dan motolodulakiki, hal itu dapat kita lihat dalam pengembangan ilmu social dimana raja-raja menggunakan gelar sultan. Penggunaan panggilan utama sebagian berhubungan dengan keutamaan ajaran islam. Selain itu, adapula kegiatan social lainnya yang dicontohkan oleh baginda biyauddin (1790) yang memulai praktek “dembulo” berupa hantaran buat acara seperti beras, rempah- rempah, minyak, ayam tujuannya untuk membantu mereka yang sedang tertimpa musibah. Tidak terlepas pula baginda mohammad iskandar pui monoarfaa, Ta Lo Talimo(1860). Ia juga dikenal karena keulamaanya, pandai berbahasa arab dan mengaji kitab. Ia juga dikenal sebagai pengarang naskah syair islam di gorontalo, seperti Suruhjanji, zikir, syair tepuk rabana dan lagu-lagu islam. Diketahui Istrinya bernama sjarifah, anak seorang ulama bernama syaid alwi alhabsy.

Semua ini adalah gambaran tentang lokalitas islam. Oleh sebab itu, tugas dan keutamaan kita hari ini adalah untuk menjaga warisan yang telah diperjuangkan oleh leluhur yang telah mendahului kita. Dan suatu kebanggan untuk kita semua penulisan tentang gorontalo dari sudut agama (islam) perlu kita apresiasi Karena berkat penelitian mereka Alhamdulillah, Gorontalo memiliki jejak sejarah dalam literaturnya.

Tolinggula, sejak tahun 1950-an masjid yang berada di kawasan Tolinggula hanya berjumlah lima bangunan, masing-masing tersebar di Desa Tolinggula Ulu dan Tolinggula Pantai. Selain itu, kehadiran Temey Asiri Hulupango Abas di Tolinggula sangat berperan memajukan tradisi keagamaan Islam. Selain berdagang dan menjabat sebagai kepala kampung, ternyata beliau pernah mendirikan masjid bersama-sama masyarakat di Tolinggula. Saat ini, masjid tersebut adalah Masjid Nurul Hidayah.

Sejarah selalu berubah. Sekitar tahun 1987 masuklah Jamaah Tabligh untuk pertama kalinya di Tolinggula, bermula dari “rombongan Manado” –dari Kampung Arab—melalui jalur laut. Kehadiran Jamaah Tabligh saat itu disambut baik oleh masyarakat setempat. Bahkan setelah Jamaah Tabligh berdakwah dari masjid yang satu ke masjid lainnya, makin banyak warga setempat yang mengikuti jejak mereka, satu di antaranya adalah Risan Antula. Ia langsung mengikuti rombongan untuk belajar agama selama tiga hari penuh.

Ternyata kehadiran Jamaah Tabligh memberikan rangsangan segar bagi masyarakat Tolinggula, di antaranya Zulkarnain Harun dan Andi Hilimi. Kedua tokoh ini diperkirakan sempat mengikuti pertemuan akbar di Manado pada tahun 1990-an dan pada akhirnya kedua tokoh ini memutuskan untuk berdakwah di lingkungan yang lebih luas: Andi Hilimi selama sepuluh hari di kampung Sanger dan Zulkarnain Harun selama empat puluh hari di Sanger bahkan sampai ke negara Filipina.

Penting pula diketahui bahwa selain selain tentang Islam dan masjid, di Tolinggula juga terdapat satu bangunan Geraja yang terletak di Tolinggula Pantai. Kendati Muslim lebih dominan dari umat Kristiani namun tidaklah menjadi hambatan bagi umat Kristiani di Tolinggula untuk tetap menjalani ritual ibadahnya dengan baik. Warga setempat juga sangat harmonis, terutama karena keberadaan ekonomi setempat yang digerakkan oleh pengusahapengusaha seperti Ci Noni, Ci Tiwi, dan Aso Bideng.

Persaudaraan dan semangat kebangsaan akan selamanya dibela dan dijunjung tinggi di Tolinggula, dengan beragam budaya, karakter pekerjaan, perbedaan etnis dan agama.

 

Sumber Bacaan

Hasanudin & Basri Amin (2012), Gorontalo Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial, Ombak:Yokyakarta.

 

16 komentar:

About

Responsive Advertisement