Sebelum kemerdekan indonesia bergelora tahun 1945, sebelumnya bangsa indonesia masih dijajah secara fisik dan materi kurang lebih 350 tahun lamanya oleh kaum kolonialisme. Namun, Ada banyak versi dalam perspektif sejarah yang menjelaskan lihat mislanya: negara indoensia di jajah kurang lebih 300 tahun, tetapi adapula yang menerangkan penjajahan belanda di Indonesia kurang lebih 350 tahun. Maka Dari sudut pandang itulah yang membuat diskusi para sejarawan terus berkembang dalam dewa kini.
Pertanyaannya adalah apakah 350 tahun hanya mitos belaka? atau 300 tahun adalah benar-benar torehan sejarah secara fakta?
Pada bagian lain, sebetulnya belanda membutuhkan waktu sekitar 300 tahun untuk menaklukan seluruh wilayah indonesia. Semntara 350 tahun adalah ungkapan bung karno saat membangkitkan semangat rakyat indonesia pada saat perang menghadapi belanda pasca proklamasi kemerdekaan indonesia.
Singkat dari penjabaran di atas. Maka pada kesempatan kali ini, penulis menguraikan sedikit gambaran tentang peran pemuda dalam persiapan kemerdekaan indonesia yang dijajah oleh bangsa asing, bukan bangsa sendiri.!
Selebihnya silahakan di baca.....
Tidak asing lagi di telinga kita bahwa kemerdekaan indonesia terjadi pada tahun 1945 tepatnya tanggal 17 agustus. Namun harus kita fahami, bahwa kemerdekaan saat itu tidak terlepas dari peran pemuda yang memiliki jiwa nasionalis yang tinggi seperti tingginya gunung (Gunung Everest).😀
Versi lain, pada sore hari tanggal 15 agustus 1945 dua orang pemuda bernama soebadio sastrosatomo dan soebianto datang di rumah bung hatta dengan mendiskusikan persiapan kemerdekaan indonesia. kaum muda memohon bantuan bung hatta agar kemerdekaan ini segera di proklamasikan mengingat jepang sudah menyerah kepada sekutu. selain itu, keinginan pemuda adalah kemerdekaan indonesia jangan di proklamasikan oleh panitia sembilan atau PPKI karena lembaga ini merupakan buatan jepang. akan tetapi, kemerdekaan indonesia harus di Proklamasikan oleh Soekarno melalui perantara Corong Radio, atas nama rakyat Indonesia sampai ke seluruh Dunia.
Namun, permintaan Pemuda saat diskusi dengan bung Hatta sempat terjadi ketegangan kurang lebih setengah jam dikarenakan kedua pihak sore itu memiliki perbedaan pendapat. Seperti halnya di katakan bung Hatta “ Jepang dengan perantaraan marsekal terauchi di dalat telah mengakui kemerdekaan Indonesia, yang pelaksanaanya akan di selanggarakan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia besok pagi pukul 10.00 di pejambon.
mendengar pernyataan bung Hatta, kaum Pemuda menolak dengan keras “itu harus di halangi!” dengan suara yang lantang. “ bung Karno sendiri yang harus mengucapkannya di muka corong radio atas nama rakyat indonesia” ucap, kaum muda di depan bung Hatta.
Dengan hati yang tenang, bung Hatta kembali menjelasakan di depan Pemuda “ Sukarno tidak mau meramapas hak panitia persiapan kemerdekaan. kemerdekaan yang di ucapkan Sukarno besok hari adalah bagian dari keterwakilan pemimpin Rakyat, sekaligus perwakilan Ketua Panitia Sembilan yang sejak awal sudah bekerja sama dengan pihak Jepang”.
nasehat bung Hatta di depan kaum Muda saat itu tidak berhasil. Justru kaum Muda menegaskan memiliki pendirian yang bersifat “Revolusiner”. Sebelum meninggalkan kediaman bung Hatta, suara sumbang keluar dari Pemuda “ di saat Revolusi kami, rupanya tidak dapat membawa bung serta, bung tidak Revolusioner” Mendengar ucapan Pemuda tersebut, bung Hatta hanya tersenyum dan menegasakan “ aku juga ingin mengadakan Revolusi dan mengedepankan organisasinya dahulu.” tindakan yang kalian lakukan bukan Revolusi tetapi Putsch, seperti yang di lakukan dahulu di Munchen Tahun 1923 oleh Hitler, tetapi gagal”
Dengan pernyataan bung Hatta saat itu , justru membuat kaum Muda marah dan terus pergi dengan mengucapkan perkataan “ Bung Hatta tidak bisa di harapkan untuk Revolusi.”
Dari torehan Sejarah singkat di atas, dapat di fahami bahwa: pertengkaran kaum Muda dengan bung Hatta bukanlah pertengkeran fisik atau angkat senjata. Tetapi pertengkaran adu konsep untuk mewujudkan Kemerdekaan Indonesia. Seperti halnya, kaum Muda menginginkan kemerdekaan di Proklamasikan tanpa campur tangan Jepang. Di sisi lain, bung Hatta ingin kemerdekaan tersusun secara struktural dan rapih tanpa tergesah-gesah.
Penulis: Syahril Yusup (Mantan Ketua HMJ-IHK 2015- Mantan Wakil Ketua SENMA FIS 2016)
Daftar Pustaka:
Muhammad Hatta. (2011). Menuju Gerbang Kemerdekaan. Penerbit Buku Kompas.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar