Mengenang
sosok pribadi Almarhum Abdul Samsi Hanafi, atau yang di kenal dengan sebutan
akrab Ti Kapa Rano. di mata saya
pribadi, Alamrhum adalah orang baik dan perhatian terhadap teman- temannya. Saya mengenal Almarhum sejak tahun 2017 pasca studi di perguruan tinggi. Awalnya tidak
saling kenal, tetapi keakraban kita berdua terjalin ketika sudah sama- sama
masuk di Organisasi Karang Taruna yang ada di Kecamatan Tolinggula (DULOHUPA) Tahun 2018.
Setahun berkecimpun
di Organisasi Karang Taruna. ada satu momen yang tidak pernah terlupakan dalam diri
saya, yakni: mengadvokasi Tapal Batas. Peran Almarhum saat itu, harus saya akui karena dalam konsuldasi masa di lapangan tidak di ragukan lagi. Hal itu terbukti pada tanggal 3 Mei
2018, Almarhum salah satu aktor terbaik yang mampu mengkordinir masa CP,
Limbato, Ilotunggula dan Tol.Ulu kurang lebih yang terkumpul 176 orang.
luar biasa,bukan?
Selain Tapal
Batas, konsisten dan komitmen Almarhum di pergerakan sosial (aksi
penggelangan dana) tidak di ragukan lagi. karena dalam setiap kegiatan sosial, Alamrhum salah satu garda terdapan melaksanakan Misi
Kemanusiaan. tanpa memperhitungkan waktu, tentu saja, ini adalah sesutu
kepribadian yang jarang saya temui di kalangan aktivis.
Saya akui,
dari semua teman-teman saya. yang tergabung di Karang Taruna Dulohupa, Hanya Almarhum
yang memiliki Komunikasi paling intens dengan saya, apalagi berbicara
pengalaman Organisasi, Rumah Tangga dan Jodoh.
2018, kebersamaan kami berdua terjalin kembali. saat itu, kita mengikuti kegiataan Komunitas Bela Indonesia. yang di laksanakan di hotel Imperial, kota gorontalo. kegiatan itu berlangsung selama 1 minggu. Pasca dari kegitan itu, kami jaringan KBI Tolinggula melaksanakan 1 agenda, yakni: pencangan Desa Pancasila. kemudian pencangan itu kami laksanakan di Desa Ilotunggula kebutulan Almarhum juga bagian dari panitia peneyelenggara sekitar Bulan Oktober Tahun 2018 .
Dan yang terakhir Pada Tahun 2019, saya mengajak Almarhum masuk di salah satu organisasi ternama, yakni: Ansor, Kegiatan pengkaderannya di lakasnakan di Palele sekitar bulan Juli, Alhamdulilah selama 3 hari, kami berdua berhasil mengkuti proses pengkaderannya dan di nyatakan lolos sebagai kader Ansor Banser Buol- Gorut.
Kurang lebih 8
bulan saya tidak ketemu dengan Almarhum, terakhir saya dengar Almarhum sudah berhenti bekerja
sebagai aparat Desa( Kepala Dusun) Ilotunggula Tahun 2020. Mendengar hal itu,
saya pribadi sangat-sangat kecewa. tapi
apa boleh buat itu adalah pilihan sadar Alamrhum.
Tiba- tiba kami di pertemukan kembali pada bulan April 2021 di warkop Welis Launi tepatnya pukul 23:20 wita. tentu saja, rasa kangen dan kebahagian kami dengan Almarhum terjalin kembali seperti sedia kala, karena biar bagimanapun Almarhum sudah kami anggap sudara kami sendiri. Awalnya kami berencananya mengagendakan sahur bareng dengan teman- teman di simpang empat sekaligus makan di daun pisang. tapi rencana itu belum tercapai mengingat kesibukan teman-teman lainnya sangat padat.
Di malam ke 3 Ramadhan,
saya sempat meluangkan waktu untuk
silaturahmi kepada Almarhum yang berlokasi di Ilotunggula. Dan Malam itu kami
berdiskusi panjang lebar di depan mesjid Ilotunggula. ada satu momen, yang tak
terlupakan, yakni: saya di tuntut dengan kalimat “ kapan sahur bareng dan makan
di daun pisang ini? Soanya ana somo pulang” Ucap Almarhum sambil senyum.
Setelah
pertemuan malam itu, kami bertiga saya,
ajis dan almarhum. menuju di rumah salah satu teman kami, bernama yahya tuna setiba
di rumah tersebut ternyata yahya tuna tidak ada. kata istrinya “ba lobe burung
“sehingga kami bergegas pulang dan saya langsung antar Almarhum di rumahnya.
17 April 2021,
tepatnya 6 Ramadhan 1442 H teman saya bernama ajis nelpon saya untuk segera ke
puskes. Katanya, almarhum mau di rujuk di Rumah Sakit. Informasi itu saya
terima setelah solat tarawe maka saya langsung bergegas menuju ke lokasi. setiba di sana saya melihat Almarhum sudah di
pasang oksigen. Pada saat saya menghampiri dengan memakai masker, tiba- tiba Almarhum
langsung mengenal saya pada malam itu dan langsung memeluk dengan di baringi kata- kata “ tolonng ana,
mana yang lain? dorang so tidak molia ana”? selepas dari ruangan, saya langsung
menghampiri welis launi untuk segera hubungi teman- teman lainnya melalui via
telepon agar segera menuju ke puskesmas.
Setelah
kehadiran semua teman- teman, tepatnya pada pukul 23:35 Wita, Almarhum menghembuskan nafas terakhir dan di nyatakan meninggal dunia. Malam
itu, sungguh sangat berduka bagi kami semua padahal saya dan teman- teman
berharap Almarhum masih bisa tertolong agar bisa sama- sama lagi dalam kebersamaan.
Tetapi apa boleh buat, rencana allah SWT lebih indah dari rancana manusia
selamat jalan sauadara tak sedara.
Keesokan paginya, saya dan teman-teman mengantarkan Almarhum sampai ke tempat pemakaman yang berlokasi di kompleks perbatasan Tolinggula Ulu dan Ilotunggula. kemudian sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Almarhum, kami semua mengenakan pakaian PDL ciri khas pakaian KT dan juga di pakai saat hembusan nafas terakhir oleh Alamrhum.
Dari singkatan
cerita di atas, itu hanya panggalan memori penulis bersama Almarhum yang pernah bersama- sama selama 5 Tahun. Pada
intinya, Almarhum adalah seorang Aktivis Tulen. selain itu, Almarhum selalu
ikhlas dalam menjalankan tugas tanpa memandang mahar.
Terimaksih Kapa, terimakasih atas persahabatan selama ini, namamu akan selalu terkenang di dalam jiwa kami, insya allah semua amalan yang pernah engkau torehkan di dunia akan di balas oleh sang sutradara kehidupan Allah SWT.
PENULIS: Syahril Yusup.







Amin
BalasHapus